PKKMB UNILA 2025 Hari Kedua: Belajar, Berkarya, dan Menemukan Rumah Baru

Catatan Hari Kedua PKKMB UNILA 2025: Belajar Banyak Hal, Menemukan Banyak Jalan

Hari kedua PKKMB Universitas Lampung 2025 teras a berbeda sejak awal. Aula besar yang dipenuhi mahasiswa baru benar-benar memancarkan semangat. Duduk di kursi, saya merasa bukan sekadar jadi peserta, melainkan bagian dari cerita besar tentang awal perjalanan di dunia perkuliahan.

Acara dimulai dengan sambutan hangat dari Dr. Saring Suhendro, S.E., M.Si., Ak., CA. Beliau menekankan bahwa PKKMB ini jangan dianggap sekadar acara seremonial, melainkan kesempatan untuk mengenal dunia kampus secara lebih dekat. Dari kata-katanya saya menangkap pesan penting: kampus bukan hanya ruang kelas, tapi juga laboratorium kehidupan. Di sinilah tempat kita berlatih menjadi pribadi yang lebih dewasa, mandiri, dan bertanggung jawab.

Setelah itu, masuklah ke sesi utama yang dibawakan oleh Prof. Dr. Sunyono, M.Si. Jujur, ini bagian yang paling saya tunggu-tunggu, karena materi yang disampaikan terasa sangat relevan dengan kondisi sekarang. Beliau menjelaskan bagaimana dunia kerja sudah banyak berubah akibat arus digitalisasi. Prof. Sunyono mengatakan bahwa era digital memang memberi banyak peluang, tetapi juga menuntut kita punya keterampilan lebih dari sekadar pengetahuan teori.

Beliau menyoroti pentingnya literasi digital. Bukan hanya tahu cara menggunakan teknologi, tapi juga mampu memilah informasi, bersikap kritis terhadap data, dan memanfaatkannya untuk sesuatu yang bermanfaat. Saat mendengarnya, saya jadi teringat bagaimana seringnya kita terjebak dengan informasi di media sosial tanpa benar-benar tahu kebenarannya. Dari sini saya sadar, literasi digital bukan lagi sekadar tambahan, melainkan kebutuhan utama.

Selain itu, Prof. Sunyono menekankan perlunya keterampilan berpikir kritis. Dunia kerja sekarang tidak lagi hanya mencari orang yang pintar secara akademis, tapi mereka yang mampu menemukan solusi dari masalah nyata. Kata-kata beliau terasa menohok, seakan mengingatkan bahwa kuliah bukan hanya tentang mengejar nilai IPK, tetapi juga bagaimana kita belajar menganalisis persoalan di sekitar.

Yang juga tidak kalah penting adalah kolaborasi dan komunikasi. Beliau mengatakan, “Teknologi bisa menggantikan banyak hal, tapi kerja sama antar manusia tidak akan pernah bisa sepenuhnya digantikan.” Kalimat itu membuat saya berpikir panjang, karena benar adanya: sehebat apapun teknologi, keberhasilan besar selalu lahir dari orang-orang yang bisa bekerja sama.

Sesi ini tidak kaku, karena mahasiswa baru juga diberi kesempatan untuk bertanya. Ada yang mengangkat isu tentang bagaimana menghadapi ketatnya persaingan kerja di era global, ada pula yang menyinggung peran soft skill dalam dunia nyata. Dari diskusi itu, saya belajar bahwa sejak awal masuk kampus, kita sudah dilatih untuk tidak hanya menerima, tetapi juga berani menyampaikan pendapat.

Setelah materi utama, giliran beberapa unit pendukung kampus yang memperkenalkan diri. UPA-BK (Unit Penunjang Akademik – Bimbingan Konseling) memaparkan layanan mereka melalui video dan demonstrasi langsung penggunaan website. Poliklinik UNILA juga hadir memperkenalkan fasilitas kesehatan yang dimiliki kampus, mulai dari layanan dokter umum, dokter gigi, pemeriksaan laboratorium, tes narkoba, hingga layanan kesehatan ibu hamil. Mereka bahkan bekerja sama dengan Kimia Farma untuk memperluas jangkauan layanan.

Setelah materi selesai, acara berlanjut ke bagian yang selalu ditunggu-tunggu, yaitu pengenalan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Jika materi sebelumnya membuka pikiran saya tentang dunia luar, sesi UKM ini justru membuka mata saya tentang dunia dalam kampus yang begitu luas.


Satu per satu UKM tampil menunjukkan kebolehan mereka. Ada UKM seni yang menghadirkan tarian daerah dengan begitu indah, seakan mengingatkan bahwa kampus bukan hanya tempat menimba ilmu, tapi juga tempat melestarikan budaya. Ada pula UKM musik yang membuat suasana jadi meriah, membuktikan bahwa kreativitas mahasiswa bisa menjadi energi positif. Tidak ketinggalan UKM bela diri yang unjuk ketangkasan, menyampaikan pesan bahwa mahasiswa juga perlu menjaga kesehatan dan kedisiplinan fisik.

Dari setiap penampilan, saya melihat bukan sekadar hiburan, melainkan peluang. UKM adalah pintu masuk untuk menemukan keluarga baru, wadah untuk menyalurkan minat, dan tempat untuk mengasah keterampilan yang tidak bisa didapat hanya dari ruang kuliah. Saya jadi sadar, jika ingin berkembang secara utuh, saya harus berani keluar dari zona nyaman dan ikut terlibat dalam kegiatan semacam ini.


Suasana ketika UKM tampil benar-benar hidup. Banyak teman di sekitar saya terlihat bersemangat, bahkan langsung mencatat nama-nama UKM yang mereka minati. Ada yang tertarik dengan organisasi kerohanian, ada yang membicarakan UKM olahraga, dan ada pula yang antusias dengan kegiatan sosial. Dari percakapan singkat itu saya belajar bahwa setiap orang punya jalannya masing-masing untuk berkembang, dan UKM memberi ruang untuk itu.

Menjelang sore, acara ditutup dengan penuh kehangatan. Saya meninggalkan aula dengan banyak catatan, tidak hanya di buku, tapi juga di hati. Dari Prof. Sunyono, saya belajar bahwa masa depan membutuhkan keterampilan lebih dari sekadar pengetahuan. Dari UKM, saya belajar bahwa kampus adalah rumah dengan banyak pintu, dan kita bebas memilih pintu mana yang ingin kita masuki.

Hari kedua PKKMB bagi saya bukan hanya tentang hadir dan mendengarkan. Lebih dari itu, ini adalah awal dari proses panjang untuk belajar, beradaptasi, dan membentuk diri. Saya sadar bahwa menjadi mahasiswa bukan hanya tentang kuliah, tapi juga tentang keberanian untuk mencari pengalaman, membangun relasi, dan menyiapkan diri menghadapi masa depan.

Dan mungkin inilah inti dari PKKMB: membuka mata kita bahwa perjalanan ini baru saja dimulai.


0 Comments